Game (Chapter 4)
Aug. 9th, 2010 02:09 pmHideko mulai pesimis ini akan jadi mini chapter, tiba2 kok ide banyak bermunculan. Hahahahaha...
Apapun itu, mari coba kita urai satu persatu. Lanjut~
Judul : Game
Penulis : Hideko Ikuta
Pairing : Sakuraiba, TomaPi (side pairing: AiPi)
Rating : PG
Genre : Romance, BL, Yaoi
Sinopsis : Saat Aiba tak rela ada yang menyaingi dirinya, hanya ada seseorang yang (mungkin) dapat membantunya.
Disclaimer : I don't own them. :(
Berbeda dengan Toma, Yamashita & Aiba yang duduk di bangku kelas 2, Sakurai Sho adalah seorang murid kelas 3. Tapi seperti halnya Toma, Sho merupakan murid terpandai di angkatannya, karena itu tak heran jika Aiba Masaki tertarik untuk meminta Sho menjadi tutornya sejak beberapa bulan yang lalu.
Hampir setiap hari Sho akan datang ke rumah Aiba untuk mengajari pelajaran dimana Aiba mengalami kesulitan dan untuk semua yang ia lakukan itu, Sho akan menerima imbalan dari Aiba berupa sejumlah uang yang dapat ia gunakan untuk membayar sewa apartemennya yang ia tinggali sendiri demi dapat hidup mandiri.
Malam itu, di dalam kamar Aiba Masaki...
"Sho-chan, aku lelah. Bolehkah kita istirahat dulu sebentar?" kata Aiba.
"ok, kau boleh istirahat sementara aku akan membaca buku pelajaranku" kata Sho sambil mengorek-orek tasnya mencari buku pelajarannya.
"jangaaaaann.." kata Aiba yang langsung menarik tangan Sho agar berhenti mencari bukunya.
"eeeehh?" Sho bingung dengan tindakan Aiba.
"aku ingin kau mencicipi kue buatanku hari ini" kata Aiba sambil tersenyum manis, membuat jantung Sho menjadi berdebar tak menentu.
"kue apa yang kau buat hari ini, Aiba-kun?" tanya Sho.
"kue strawberry, aku baru menemukan resepnya kemarin sore. Mohon penilaianmu senpai..." kata Aiba sambil memberikan sepotong kue berlapis cream putih dengan sebuah strawberry segar di atasnya.
"Kawaii~, kue ini sangat mencerminkan pembuatnya" pikir Sho sebelum kemudian mulai menikmati kue itu.
Sho sebenarnya bukan tipe orang yang suka memakan makanan manis tapi entah mengapa semenjak menjadi tutor Aiba ia jadi menyukainya. Mungkin karen hampir seminggu sekali Aiba yang memang anak pengusaha toko kue terkenal ini memberinya kue-kue manis hasil buatannya sendiri, Sho perlahan jadi gemar pada makanan ini. Bahkan ada saat-saat dalam satu minggu dimana ia merindukan Aiba membuatkan kue untuknya.
"Bagaimana?" tanya Aiba ragu-ragu karena melihat ekspresi datar dari Sho.
"ini enak sekali, Aiba-kun. Kau memang berbakat" kata Sho memuji.
"Yay~! Terima kasih, Sho-chan! Aku senang sekali kau menyukainya..." kata Aiba seraya memeluk Sho dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Sho. Selama beberapa detik keduanya berpelukan dalam diam. Lalu sekejap kemudian mereka tersentak kaget dengan posisi mereka.
"aaahhh~ maaf, aku terlalu senang" kata Aiba dengan semburat merah di pipinya.
"un~ daijoubu" jawab Sho dengan wajah yang juga merah padam. Suasana jadi terasa agak kikuk.
"uhhmmm... ne~ Sho-chan... uhmm..." Aiba mulai berpikir untuk mengganti pembicaraan mereka.
"dou?" tanya Sho.
"aku sudah menjalankan saranmu waktu itu" kata Aiba sambil memandang Sho dengan senyuman lebar.
"saranku yang mana?" tanya Sho.
"saran untuk mengalihkan perhatian Toma supaya ia tidak terus menerus bisa mengalahkanku di sekolah" kata Aiba sambil terkekeh.
"Astaga! Kemarin itu aku tidak mengatakannya dengan serius..." kata Sho sambil memegang kedua pundak Aiba.
"terlambat. Aku benar-benar sudah menyuruh Yamashita untuk mengganggu konsentrasi Ikuta" kata Aiba sambil tertawa geli.
"kau benar-benar sudah menjalankannya?!" kata Sho dengan wajah terkejut.
"tentu saja, Yamashita yang akan mengurus segalanya. Aku tinggal tunggu hasilnya" kata Aiba.
"terserah apa yang akan kau lakukan Masaki. Tapi tolong jaga dirimu, hal ini nanti mungkin saja akan menyulitkanmu juga" kata Sho sambil mengacak-acak rambut Aiba.
"aku pikir aku akan lebih baik-baik saja jika kau mau membantuku juga" kata Aiba.
"membantumu?" tanya Sho.
"iya, aku butuh bantuanmu untuk mengawasi mereka" kata Aiba.
"mengawasi seperti apa?" tanya Sho lagi.
"sebelum ujian, atau.. mungkin lebih tepatnya dalam sebulan ini, Yamashita akan sangat dekat dengan Ikuta. Meskipun kedengarannya tidak mungkin, tapi aku tetap takut kalau pria yang ku kasihi tiba-tiba jatuh cinta dengan orang yang ku benci, jadi, aku mau kau mengawasi mereka dan memberi kabar tentang mereka padaku setiap hari" kata Aiba.
Hati Sho sedikit perih ketika mendengar Aiba berkata bahwa Yamashita adalah orang yang dikasihi Aiba. Sudah sejak lama ia diam-diam menyukai Aiba, bahkan ia rela kurang tidur guna menyiapkan bahan ajaran yang sempurna untuk mengajari Aiba. Tapi ia tak pernah berani untuk mengatakan perasaannya pada pria yang ada di hadapannya itu.
Sho berusaha menguasai dirinya...
"lalu bagaimana dengan belajarmu?" tanya Sho.
"itu mudah. Setelah kau selesai mengawasi mereka, kau bisa datang ke rumah ini untuk memberi kabar dan mengajariku seperti biasa. Kau juga boleh tidur di sini jika kau mau" kata Aiba.
Terlihat Sho mengerutkan dahinya, ia berpikir keras tentang benar tidaknya mendukung aksi Aiba ini.
"kau akan ku beri imbalan lebih besar dua kali lipat dari imbalanmu sekarang! Bagaimana?" kata Aiba lagi.
"hmmm... Baiklah, aku akan membantumu" jawab Sho akhirnya. Bukan karena ia tergoda dengan bayaran yang akan ia terima tapi setelah mendengar Aiba bersedia membayarnya dua kali lipat, Sho tahu pasti bahwa Aiba sebenarnya sedang sangat membutuhkan dukungannya.
"yay~! terima kasih Sho-chan, aku tak menyangka semua jadi bisa semudah ini" kata Aiba sambil kembali memeluk Sho.
"hmmm... ini sepertinya akan menarik" pikir Sho sambil menyeringai dibalik pelukan Aiba.
Apapun itu, mari coba kita urai satu persatu. Lanjut~
Judul : Game
Penulis : Hideko Ikuta
Pairing : Sakuraiba, TomaPi (side pairing: AiPi)
Rating : PG
Genre : Romance, BL, Yaoi
Sinopsis : Saat Aiba tak rela ada yang menyaingi dirinya, hanya ada seseorang yang (mungkin) dapat membantunya.
Disclaimer : I don't own them. :(
Berbeda dengan Toma, Yamashita & Aiba yang duduk di bangku kelas 2, Sakurai Sho adalah seorang murid kelas 3. Tapi seperti halnya Toma, Sho merupakan murid terpandai di angkatannya, karena itu tak heran jika Aiba Masaki tertarik untuk meminta Sho menjadi tutornya sejak beberapa bulan yang lalu.
Hampir setiap hari Sho akan datang ke rumah Aiba untuk mengajari pelajaran dimana Aiba mengalami kesulitan dan untuk semua yang ia lakukan itu, Sho akan menerima imbalan dari Aiba berupa sejumlah uang yang dapat ia gunakan untuk membayar sewa apartemennya yang ia tinggali sendiri demi dapat hidup mandiri.
Malam itu, di dalam kamar Aiba Masaki...
"Sho-chan, aku lelah. Bolehkah kita istirahat dulu sebentar?" kata Aiba.
"ok, kau boleh istirahat sementara aku akan membaca buku pelajaranku" kata Sho sambil mengorek-orek tasnya mencari buku pelajarannya.
"jangaaaaann.." kata Aiba yang langsung menarik tangan Sho agar berhenti mencari bukunya.
"eeeehh?" Sho bingung dengan tindakan Aiba.
"aku ingin kau mencicipi kue buatanku hari ini" kata Aiba sambil tersenyum manis, membuat jantung Sho menjadi berdebar tak menentu.
"kue apa yang kau buat hari ini, Aiba-kun?" tanya Sho.
"kue strawberry, aku baru menemukan resepnya kemarin sore. Mohon penilaianmu senpai..." kata Aiba sambil memberikan sepotong kue berlapis cream putih dengan sebuah strawberry segar di atasnya.
"Kawaii~, kue ini sangat mencerminkan pembuatnya" pikir Sho sebelum kemudian mulai menikmati kue itu.
Sho sebenarnya bukan tipe orang yang suka memakan makanan manis tapi entah mengapa semenjak menjadi tutor Aiba ia jadi menyukainya. Mungkin karen hampir seminggu sekali Aiba yang memang anak pengusaha toko kue terkenal ini memberinya kue-kue manis hasil buatannya sendiri, Sho perlahan jadi gemar pada makanan ini. Bahkan ada saat-saat dalam satu minggu dimana ia merindukan Aiba membuatkan kue untuknya.
"Bagaimana?" tanya Aiba ragu-ragu karena melihat ekspresi datar dari Sho.
"ini enak sekali, Aiba-kun. Kau memang berbakat" kata Sho memuji.
"Yay~! Terima kasih, Sho-chan! Aku senang sekali kau menyukainya..." kata Aiba seraya memeluk Sho dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Sho. Selama beberapa detik keduanya berpelukan dalam diam. Lalu sekejap kemudian mereka tersentak kaget dengan posisi mereka.
"aaahhh~ maaf, aku terlalu senang" kata Aiba dengan semburat merah di pipinya.
"un~ daijoubu" jawab Sho dengan wajah yang juga merah padam. Suasana jadi terasa agak kikuk.
"uhhmmm... ne~ Sho-chan... uhmm..." Aiba mulai berpikir untuk mengganti pembicaraan mereka.
"dou?" tanya Sho.
"aku sudah menjalankan saranmu waktu itu" kata Aiba sambil memandang Sho dengan senyuman lebar.
"saranku yang mana?" tanya Sho.
"saran untuk mengalihkan perhatian Toma supaya ia tidak terus menerus bisa mengalahkanku di sekolah" kata Aiba sambil terkekeh.
"Astaga! Kemarin itu aku tidak mengatakannya dengan serius..." kata Sho sambil memegang kedua pundak Aiba.
"terlambat. Aku benar-benar sudah menyuruh Yamashita untuk mengganggu konsentrasi Ikuta" kata Aiba sambil tertawa geli.
"kau benar-benar sudah menjalankannya?!" kata Sho dengan wajah terkejut.
"tentu saja, Yamashita yang akan mengurus segalanya. Aku tinggal tunggu hasilnya" kata Aiba.
"terserah apa yang akan kau lakukan Masaki. Tapi tolong jaga dirimu, hal ini nanti mungkin saja akan menyulitkanmu juga" kata Sho sambil mengacak-acak rambut Aiba.
"aku pikir aku akan lebih baik-baik saja jika kau mau membantuku juga" kata Aiba.
"membantumu?" tanya Sho.
"iya, aku butuh bantuanmu untuk mengawasi mereka" kata Aiba.
"mengawasi seperti apa?" tanya Sho lagi.
"sebelum ujian, atau.. mungkin lebih tepatnya dalam sebulan ini, Yamashita akan sangat dekat dengan Ikuta. Meskipun kedengarannya tidak mungkin, tapi aku tetap takut kalau pria yang ku kasihi tiba-tiba jatuh cinta dengan orang yang ku benci, jadi, aku mau kau mengawasi mereka dan memberi kabar tentang mereka padaku setiap hari" kata Aiba.
Hati Sho sedikit perih ketika mendengar Aiba berkata bahwa Yamashita adalah orang yang dikasihi Aiba. Sudah sejak lama ia diam-diam menyukai Aiba, bahkan ia rela kurang tidur guna menyiapkan bahan ajaran yang sempurna untuk mengajari Aiba. Tapi ia tak pernah berani untuk mengatakan perasaannya pada pria yang ada di hadapannya itu.
Sho berusaha menguasai dirinya...
"lalu bagaimana dengan belajarmu?" tanya Sho.
"itu mudah. Setelah kau selesai mengawasi mereka, kau bisa datang ke rumah ini untuk memberi kabar dan mengajariku seperti biasa. Kau juga boleh tidur di sini jika kau mau" kata Aiba.
Terlihat Sho mengerutkan dahinya, ia berpikir keras tentang benar tidaknya mendukung aksi Aiba ini.
"kau akan ku beri imbalan lebih besar dua kali lipat dari imbalanmu sekarang! Bagaimana?" kata Aiba lagi.
"hmmm... Baiklah, aku akan membantumu" jawab Sho akhirnya. Bukan karena ia tergoda dengan bayaran yang akan ia terima tapi setelah mendengar Aiba bersedia membayarnya dua kali lipat, Sho tahu pasti bahwa Aiba sebenarnya sedang sangat membutuhkan dukungannya.
"yay~! terima kasih Sho-chan, aku tak menyangka semua jadi bisa semudah ini" kata Aiba sambil kembali memeluk Sho.
"hmmm... ini sepertinya akan menarik" pikir Sho sambil menyeringai dibalik pelukan Aiba.
no subject
Date: 2010-08-09 04:07 pm (UTC)Makasih udah ngapdet, Hide-chan.. ;)
Lanjutkaaaan~! (^o^)b
no subject
Date: 2010-08-10 08:50 am (UTC)Berikutnya, Yamashita Tomohisa. Kabur buat ngepost yang baru. Yay! ^^