kashikuta: (Calm Pi)
[personal profile] kashikuta

Photobucket


Judul : Infinity
Penulis : [livejournal.com profile] hideko_ikuta

Pairing : SakurAiba (main), TomaPi (side), Guest : Ohno, Jun & Nino
Rating : PG
Genre : AU, Romance, BL, Yaoi



“Masaki... Apa kau baik-baik saja?” tanya Sho sambil memangku tubuh Aiba.
 
“sakit, Sho-chan...” kata Aiba sambil menggenggam erat tangan Sho.
 
“bertahanlah, Masaki... Kita harus bisa menghadapi orang ini demi menyelamatkan Midori dan Baginda Ikuta” kata Sho mencoba memberi semangat pada Aiba.
 
“kau benar, Sho-chan... Ayo!” kata Aiba yang dengan cepat kembali berdiri dengan penuh semangat membuat Sho tersenyum.
 
“aku mencintaimu, Aiba Masaki... Sangat mencintaimu...” kata Sho pelan tapi cukup jelas didengar Aiba.
 
“aku juga...” jawab Aiba yang kemudian mencium pipi Sho sekilas, tapi membuat jantung Sho berhenti berdegup sesaat.
 
Dalam sekejap tanpa diketahui Yamashita, kalung yang dipakai oleh Sho dan Aiba bersinar dengan terang lalu bertransformasi membentuk sebuah lambang infinity, membuat keduanya kini merasakan memiliki tenaga yang berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.
 
“masih belum mau menyerah?” tanya Yamashita sambil bertopang dagu, mulai malas melayani Aiba dan Sho yang sejak tadi kekuatannya tampak tidak sebanding dengannya.
 
“tentu saja belum! Iya khan, Sho-chan?” kata Aiba riang sambil memegang pedang hijaunya dengan kedua tangannya dengan posisi siap menyerang.
 
“Betul! Ich, ni, san...!” teriak Sho memberi aba-aba pada Aiba, lalu keduanya secara bersama-sama menyerang kekuatan yang menjadi pembatas mereka untuk menyerang Yamashita.
 
Dengan sekali tebas, keduanya berhasil membuat kekuatan itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang baru saja pecah. Yamashita terkejut hingga membelalakan mata, tak menyangka dengan kekuatan besar yang ia lihat.
 
 
“Matsujun~!!” teriak Yamashita memanggil saudara tirinya seraya memunculkan sebuah pedang es di tangannya untuk segera melawan serangan Aiba dan Sho yang berusaha mendekat ke singgasananya.
 
“Sho-chan, Awas!!” teriak Aiba begitu melihat sebuah kristal hitam yang cukup besar dan tajam mengarah menuju Sho. Untung saja Sho cukup tangkas, jadi serangan itu dapat ditangkis dengan mudah oleh pedang Sho.
 
 
“Ah~ Sayang sekali, padahal hampir saja aku berhasil! Perkenalkan aku Matsumoto Jun, senang bertemu dengan kalian” kata seseorang bersenyuman sinis yang tiba-tiba muncul di samping Yamashita sambil membawa pedang berbahan kristal hitam.
 
Aiba dan Sho berpandangan heran melihat orang yang baru saja muncul di samping Yamashita itu. Belum pernah sekalipun mereka melihatnya tetapi Sho ingat perkataan Toma mengenai Matsumoto Jun yang merupakan saudara tiri Yamashita.
 
 
Aiba dan Sho kemudian dengan cepat membagi tugas, Sho menyerang Yamashita sedangkan Aiba menyerang Matsujun. Pertarungan sengit antara keempatnya pun tak terhindarkan. Pedang Infinity milik Aiba dan Sho melawan pedang es milik Yamashita dan pedang kristal hitam milik Matsujun tampak sangat seimbang meskipun tampaknya Matsujun mulai kerepotan dengan suasana ruangan tertutup yang sudah terasa menghangat itu akibat percikan api dari keempat pedang tersebut setiap bersinggungan.
 
“sebenarnya aku bisa membantumu pulang, jika kau mau bekerjasama denganku, Aiba” kata Matsujun mencoba menggoyahkan keberanian Aiba.
 
“aku tidak perduli!” kata Aiba masih terus menyerang Matsujun.
 
 
Kesempatan datang, ketika pedang Matsujun dan Aiba saling mendekat. Matsujun memandang kedua mata Aiba dan berusaha menghipnotisnya dengan bola matanya yang tiba-tiba memerah.
 
“kau sudah lama ingin pulang khan? Turuti perintahku, bekerjasama denganku, kau akan bisa segera pulang!” kata Matsujun.
 
“aku tidak akan tertipu olehmu!” jawab Aiba sambil memalingkan pandangan sebentar ke arah Sho yang sedang bertarung sengit dengan Yamashita.
 
 
Matsujun menjadi geram karena ternyata kekuatan hipnotisnya tidak mempengaruhi Aiba sama sekali. Tetapi Matsujun menyadari sesuatu ketika melihat Aiba sempat memandang Sho sekilas saat mereka berdua bertarung. Cinta? Takut akan kehilangan? Pikirnya.
 
“kau juga bisa mengajak kekasihmu itu, ikut pulang bersama ke duniamu jika aku yang membawamu pulang” kata Matsujun, masih berusaha membujuk Aiba.
 
“tidak mungkin...” jawab Aiba mulai ragu.
 
“aku tahu kau menginginkannya, Aiba...” kata Matsujun sambil tersenyum berusaha memecah konsentrasi Aiba yang masih berduel pedang dengannya.
 
“tidak...!” kata Aiba sambil menggelengkan kepala.
 
“akuilah, kau menginginkannya... Kau ingin pulang ke duniamu, bersama dengan kekasihmu...” kata Matsujun.
 
“Tidak! Tidak! Tidak!” kata Aiba memejamkan mata sambil menggelengkan kepala, membuat perlawanannya pada Matsujun terhenti sejenak.
 
 
Kesempatan itu dengan cepat digunakan Matsujun untuk mengendalikan pedang Aiba dan sekejap kemudian....
 
“ARRRGHHH!!!” terdengar jeritan kencang diiringi dengan gempa besar di Akai Land.
 
“Yamashitaaaaaa!!!” teriak Sho kemudian ketika melihat lawan tandingnya tiba-tiba terkulai di lantai karena tertancap pedang Aiba di punggungnya yang dikendalikan Matsujun.
 
 
Sho baru berusaha menolong Yamashita ketika kemudian ia mendengar teriakan dari Aiba...
 
“Sho-chaaaann~!!” teriak Aiba.
 
“Masaki...!!!!” teriak Sho berusaha mengejar Aiba tetapi tubuh Aiba sudah terlanjur menghilang dibawa oleh Matsujun.
 
Sho kembali menengok ke belakang untuk melihat keadaan Yamashita tetapi ternyata tubuh Yamashita sudah menghilang, meninggalkan genangan darah di tempat ia terjatuh tadi.
 
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini....??!!” kata Sho, terduduk lemas di lantai dengan nafas terengah.
 
 
 
BOOM...!!
Pintu yang terletak tak jauh dari Sho duduk, tiba-tiba saja runtuh.
 
“Jendral!! Anda tidak apa-apa??” teriak Ohno dengan wajah panik begitu melihat Sho terduduk lemas di lantai.
 
“bantu aku... bantu aku menemukan Aiba Masaki....” kata Sho sambil memegang erat lengan Ohno.
 
 
 
Di tempat lain...
 
Yamashita kini sedang berdiri berhadapan dengan Matsujun, sementara Aiba berada tak jauh dari mereka dalam posisi terikat baik tangan, mulut maupun kakinya.
 
“kenapa kau menghianatiku? Kita bersaudara, bukan?” tanya Yamashita dengan nafas terengah dan wajah yang pucat karena kehilangan banyak darah dan menahan sakit.
 
“kau jangan lupa, kita ini... SAUDARA TIRI! Kita dari Ibu yang sama tapi Ayah yang berbeda, apa kau lupa itu?” tanya Matsujun, Yamashita hanya menjawab dengan anggukan lemah.
 
Yamashita dan Matsujun memang dilahirkan oleh Ibu yang sama tetapi dari dua Ayah yang berbeda. Sebelum menikah dengan raja negeri Akai, Ibu mereka memang sudah pernah menikah dengan orang lain lalu melahirkan Matsujun. Karena peraturan mengatakan bahwa raja Akai harus merupakan keturunan langsung dari raja terdahulu, maka Yamashita yang akhirnya mendapat tahta, bukan Matsujun sebagai kakak tirinya.
 
“kau tahu bagaimana susahnya aku mendapatkan kekuatan ini supaya aku bisa membanggakan ayahmu??!! Supaya aku bisa terlihat lebih hebat darimu?? Tapi ayahmu itu, tidak pernah sekalipun perduli!” kata Matsujun.
 
“kau tahu apa saja yang ku korbankan supaya aku bisa mendapat kekuatan ini?! Tapi ayahmu malah memberikan tahta yang seharusnya milikku menjadi milikmu! Semua yang ia lakukan selalu saja untukmu! Apapun yang ku lakukan tidak pernah terlihat hebat selama kau masih ada!” kata Matsujun sambil menggerakkan tangannya, membuat pedang yang menancap di punggung Yamashita tercabut dengan paksa.
 
Baginda Yamashita!!!!” teriak Aiba dalam hati yang mulutnya dibungkam.
 
Yamashita kembali tergeletak di lantai, terduduk lemas dengan tubuh berlumuran darah. Biasanya luka kecil seperti ini tidak akan membunuhnya, benda apapun tak akan mampu membunuhnya. Tapi kali ini keadaan berbeda, adalah pedang Infinity yang semula tertancap di punggungnya, membuat tubuhnya menjadi terasa di bakar pada bagian dalam. Akibatnya, Yamashita hanya bisa terkulai lemas saat Matsujun menginjak tubuhnya.
 
“hidupku akan lebih baik jika sejak awal kau tidak pernah ada! Aku bahkan bisa hidup senang bersama dengan Toma!” kata Matsujun.
 
hah? Toma...?” tanya Yamashita dalam hati, heran.
 
“dan kenapa raja sebaik Ikuta Toma juga hanya mau berhubungan akrab dengan raja yang payah sepertimu!” rintih Matsujun kesal sambil menendangi tubuh Yamashita.
 
“kau... Mencintai... Ikuta Toma?” tanya Yamashita.
 
“bukan urusanmu!” kata Matsujun masih menendangi tubuh Yamashita yang semakin lemas.
 
“Matsujun... Jika aku mati...., negeri ini akan hancur... bersamaku” kata Yamashita sembari terbatuk-batuk, mulai kehilangan nafas, berusaha membuat Matsujun berhenti.
 
Yamashita dan Matsujun tahu benar dengan konsep kerajaan Akai dan Midori, kedua negeri itu sama, dikuasai penuh oleh sang raja. Jika sang raja meninggal sebelum tahta diserahkan kepada raja yang lain, maka negeri itu akan hancur bersamaan dengan kematian sang raja.
 
“kau pikir aku perduli dengan itu?! Negeri yang tidak bisa jadi milikku, juga tidak boleh dimiliki oleh orang lain! Apapun yang tak bisa ku miliki, tidak akan kuizinkan untuk dimiliki oleh siapapun...!” kata Matsujun yang kemudian menendang tubuh Yamashita hingga terdorong jauh, lalu menghilang bersama Aiba dan pedangnya.
 
 
Beberapa saat kemudian...
 
“Baginda Yamashita... Apa anda baik-baik saja... Baginda??” tanya seseorang sambil menepuk-nepuk pipi Yamashita.


From:
Anonymous( )Anonymous This account has disabled anonymous posting.
OpenID( )OpenID You can comment on this post while signed in with an account from many other sites, once you have confirmed your email address. Sign in using OpenID.
User
Account name:
Password:
If you don't have an account you can create one now.
Subject:
HTML doesn't work in the subject.

Message:

 
Notice: This account is set to log the IP addresses of everyone who comments.
Links will be displayed as unclickable URLs to help prevent spam.

Profile

kashikuta: (Default)
kashikuta

December 2011

S M T W T F S
    123
45 678 910
1112 1314151617
18192021222324
25262728293031

Style Credit

Expand Cut Tags

No cut tags
Page generated Sep. 26th, 2017 10:57 am
Powered by Dreamwidth Studios