kashikuta: (MatsuMiya)
[personal profile] kashikuta

Photobucket


Judul : Infinity
Penulis : [livejournal.com profile] hideko_ikuta

Pairing : SakurAiba (main), TomaPi (side), Guest : Ohno, Jun & Nino
Rating : PG
Genre : AU, Romance, BL, Yaoi



Yamashita membuka matanya dan melihat kerumunan orang sedang memandanginya dengan wajah panik.
 
“Ah..., kenapa kau bisa ada di sini? Uhuk... Uhuk...” kata Yamashita sambil sesekali terbatuk karena genangan darah di mulutnya.
 
“saya mendengar jeritan hati Aiba dari tempat ini, apa anda baik-baik saja?” kata Sho memandang Yamashita yang terluka dengan wajah iba.
 
“aku baik-baik saja, cepat selamatkan Aiba dari Kakakku... Mereka pasti... Ada di penjara bawah tanah sekarang. Nino juga, ada di sana...” kata Yamashita dengan terbata-bata.
 
“arahnya lurus ke sana... belok kanan, lalu turun terus menggunakan tangga hingga ke bawah...” kata Yamashita di depan Sho dan Ohno yang menatapnya tidak percaya.
 
“Toma baik-baik saja... Ayo cepat, selamatkan Masaki dan Nino. Cuaca di sini sudah semakin kacau. Jika aku mati, negeri ini akan hancur. Jadi, cepat... selamatkan diri kalian...” kata Yamashita, tangannya menunjuk jendela yang memperlihatkan cuaca Akai Land yang memang sangat kacau karena sudah tidak dapat ia kendalikan lagi.
 
Sho, Ohno dan beberapa pasukan Midori Land yang tersisa terpukau dengan pemandangan di luar dimana terlihat langit Akai Land panas terik tetapi ada petir, hujan air dan salju bersamaan. Tanpa mereka sadari Yamashita tiba-tiba sudah kembali menghilang dari pandangan.
 
“eh? Kemana orang itu?” tanya Ohno begitu menyadari Yamashita sudah tidak berada di dekat mereka.
 
“Sudah, kita urus dia nanti. Ayo sekarang cepat kita selamatkan Aiba dan Jendral Nino dulu!” kata Sho mencoba mempercayai perkataan Yamashita lalu berlari menuju tempat yang ditunjukkan Yamashita. Ohno dan pasukan Midori mengikuti arah Sho berlari.
 
 
 
Di tempat lain...
 
Matsujun baru saja sampai di penjara bawah tanah bersama Aiba lalu mendorong tubuh Aiba hingga terjatuh di dekat Nino yang berdiri merapat di dinding dengan tangan dan kaki di rantai.
 
“apa kau sudah merindukanku, Nino?” tanya Matsujun begitu mendekat ke Nino. Ia kemudian menjambak rambut Nino lalu mencium bibirnya dengan ganas, Nino hanya pasrah mengikuti keinginan Matsujun, sama sekali tidak berusaha melawan sedangkan Aiba berusaha memandang ke arah lain.
 
 
Aiba tiba-tiba berdiri ketika ia merasakan ada air yang mengaliri kakinya.
 
Eh? Banjir?!” tanya Aiba dalam hati sambil memandang Matsujun, tapi yang dipandang hanya acuh.
 
“kita harus segera pergi dari sini, Nino... Negeri ini sebentar lagi akan hancur!” kata Matsujun sambil melepaskan rantai-rantai yang mengikat Nino.
 
“hancur? Memangnya apa yang terjadi??” tanya Nino, bingung.
 
“fufufu... Aku berhasil membuat orang itu terluka parah, aku sudah puas sekarang!” kata Matsujun sambil tertawa senang.
 
“eh? Baginda Yamashita??!!” kata Nino terkejut agak bingung harus melakukan apa.
 
“sudah, ayo...! Sekarang kita bisa hidup abadi berdua, Nino...” kata Matsujun sambil menarik tangan Nino, bermaksud mengajaknya pergi.
 
“tu... tunggu! Bagaimana dengan Aiba?” tanya Nino bingung, tak mau melangkah.
 
“dia adalah Ksatria Infinity, setelah Yamashita terbunuh, akan lebih baik jika ia menghilang juga, kau mengerti khan maksudku?” kata Matsujun sambil tersenyum sinis memandang Aiba yang terikat tak berdaya.
 
 
Infinity adalah simbol antara sesuatu yang tak hingga dan sesuatu yang tidak bisa terhitung, tidak memiliki batasan dan merupakan sesuatu yang berkelanjutan. Nino terbelalak sendiri ketika menyadari arti Infinity dan maksud dari Matsujun. Dengan spontan ia pun langsung mendorong tangan Matsujun untuk menuju Aiba, mencoba menolongnya.
 
“Tuan Aiba... Ingat perkataan saya. Apapun yang terjadi, anda harus selamat! Jaga diri anda baik-baik, anda harus selamat!” teriak Nino berusaha menolong Aiba.
 
“NINO!!!! Jangan mengatakan hal yang tidak penting!!” teriak Matsujun geram melihat sikap kekasihnya lalu langsung menarik tangannya dan memberinya tamparan keras hingga jatuh pingsan.
 
Nino~!!!” teriak Aiba dalam hati.
 
 
Matsujun kemudian membopong tubuh lemah Nino untuk membawanya pergi. Baru beberapa langkah Matsujun berjalan sambil membopong tubuh Nino, ternyata Sho, Ohno dan beberapa pasukan Midori sudah sampai di penjara bawah tanah.
 
Terkejut karena Sho dapat datang begitu cepat, Matsujun kemudian meletakkan tubuh Nino di bawah dan segera mengeluarkan pedangnya untuk bertarung dengan Sho. Ohno menolong Nino sedangkan pasukan Midori menolong Aiba. Di penjara bawah tanah itu akhirnya Sho dan Matsujun berduel sementara Ohno dan Aiba sibuk berusaha membuat Nino kembali sadar.
 
Ketika Sho dan Matsujun sedang berduel dengan pedang mereka, tiba-tiba terasa getaran gempa di Akai Land sehingga membuat beberapa langit-langit penjara bawah tanah itu mulai sedikit runtuh.
 
“kalian keluar dulu sementara aku mengurus orang ini!” perintah Sho pada pasukannya, membuat Ohno kemudian menggendong Nino lalu keluar bersama pasukannya dari penjara bawah tanah.
 
“Nino...” kata Matsujun berusaha mengejar Nino yang dibawa oleh Ohno tetapi kemudian dihalangi oleh Sho.
 
 
 
Di tempat lain...
 
Yamashita terjatuh begitu masuk ke dalam kamarnya, membuat para pengawalnya terkejut. Dan membuat Toma yang memperhatikannya dari ruang sebelah, langsung ribut minta dibebaskan dari ruangannya.
 
“kalian... Cepat lari dari istana ini dan pergilah mengungsi ke Midori...!” kata Yamashita membubarkan pengawalnya yang masih setia menjaga istananya dan kamar tidurnya meskipun sejak tadi Akai Land dilanda gempa hebat.
 
“tapi Baginda...” kata beberapa pengawal Yamashita mencemaskan keadaan Yamashita yang tampak parah sekali.
 
“aku tidak apa-apa... Cepat, selamatkan diri kalian...” kata Yamashita menolak bantuan dari pengawal-pengawalnya dan meminta mereka pergi.
 
 
Setelah melihat ruang kamarnya sepi, Yamashita lalu menggerakkan tangannya dan membuat kekuatan pembatas antara kamarnya dan Toma jadi menghilang.
 
“Yamashitaaaa!!!” teriak Toma begitu melihat Yamashita berbaring lemah di tempat tidurnya dengan wajah pucat dan darah yang membasahi bajunya.
 
 
Toma lalu berjalan mendekat ke tempat tidur Yamashita,
 
“Yamashita, apa yang terjadi? Bertahanlah...” kata Toma.
 
“Toma, kau ku bebaskan... Sekarang, cepatlah... pergi dari sini” kata Yamashita dengan terbata-bata sambil memegang rantai yang mengikat Toma, lalu dalam sekejap rantai-rantai itu menghilang.
 
“bagaimana mungkin aku bisa pergi dari sini jika melihat keadaanmu seperti ini?” kata Toma sambil memegangi pipi Yamashita yang memucat, mulutnya sesekali mengeluarkan darah.
 
“cepatlah Toma... Negeri ini akan hancur... Ku mohon, pergilah...” kata Yamashita sambil mendorong tubuh Toma menjauh, sebuah dorongan yang pelan karena Yamashita sudah kehabisan tenaga.
 
“Bagaimana mungkin aku pergi setelah melihat keadaanmu yang seperti ini, Yamashita...??” kata Toma yang terlihat berusaha mencari sesuatu.
 
Yamashita kemudian menarik tubuh Toma ke dekatnya lalu mencium bibir Toma.
 
“aku mencintaimu, Toma... Kau akan mengalami kesulitan jika tetap bersamaku di negeri ini” kata Yamashita kemudian, sementara pria di depannya hanya memandang dengan terkejut, lalu menitikkan air mata.
 
“Yamashita...” kata Toma sambil menangis tersedu dengan tangan yang memegangi tubuh Yamashita.
 
“eh? Kenapa kau menangis, Toma?” tanya Yamashita sambil memegang pipi Toma.
 
“Kenapa baru mengatakan hal seperti ini sekarang?! Disaat Akai Land hampir hancur, di saat tubuhmu berlumuran darah seperti ini bahkan aku dapat merasakan darahmu ketika kau menciumku tadi! Kenapa harus mengatakan itu sekarang?!! Bodoh!” kata Toma kesal, air mata masih terus mengalir di pipinya.
 
“Sebaiknya dikatakan terlambat... daripada tidak sama sekali khan, Toma?” kata Yamashita sambil tersenyum, menunjukkan giginya yang juga berlumuran darah.
 
“cukup, berhenti bicara. Keadaanmu akan menjadi lebih buruk!” kata Toma masih berusaha mencari sesuatu.
 
“aku tidak apa-apa... Ahhh... Aku punya sesuatu untukmu... Di laci meja, coba kau buka...” kata Yamashita sambil sesekali terbatuk.
 
Toma kemudian membuka laci meja di dekat tempat tidur, di dalam laci itu hanya ada sebuah kotak kecil berisi seikat benang berwarna merah.
 
“ini...?” tanya Toma terkejut ketika membuka kotak.
 
“aku tahu mungkin waktuku tidak banyak lagi. Tapi... Menikahlah denganku, Toma... Kabulkanlah impian terakhirku, untuk menjadi pasangan hidupmu...” kata Yamashita sambil memegang tangan Toma lalu meletakkannya di pipinya.
 
 
Mata mereka saling berpandangan, Toma tahu persis, Yamashita tidak membohonginya kali ini. Yamashita sudah kembali menjadi orang yang ia kenal dahulu.
 
“kau memang benar-benar raja yang bodoh! Kenapa kau membuatku menunggu begitu lama untuk mendengarmu mengatakan ini? Baka~!” jawab Toma sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada Yamashita.
 
Yamashita terkekeh sambil menahan sakit ketika melihat sikap Toma, ia kemudian mengikatkan ujung benang merah itu ke kelingking Toma.
 
“dengan ini..., kau, Ikuta Toma, telah resmi resmi menjadi pasangan Yamashita Tomohisa dari Akai Land... dan berkewajiban untuk menjaganya selamanya” kata Yamashita dengan agak terbata-bata.
 
Ujung satunya dari benang merah itu kemudian digunakan Toma untuk mengikat kelingking Yamashita.
 
“dengan ini, kau, Yamashita Tomohisa, telah resmi resmi menjadi pasangan Ikuta Toma dari Midori Land, dan berkewajiban untuk menjaganya selamanya...” kata Toma sambil memandangi Yamashita.
 
“terima kasih, Toma... Dengan begini... Aku bisa pergi dengan bahagia...” kata Yamashita semakin lemah dan memucat seiring dengan benang merah yang menghilang setelah mengikat kedua kelingking mereka. Senyuman di wajahnya masih belum menghilang.
 
“tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!” kata Toma setengah berteriak.


============================================================

Authors note :

Apa ada yang bisa nebak cerita ini akan tamat di chapter berapa?? Fufufu..

Hideko lagi nulis chapter terakhir nih.. Mau endingnya gimana? Sedih? Senang? Nggantung? Romantis? Komedi? Atau mau pakai Epilog juga? Coba aku pengen tau pendapatnya deh.. Hehehe...

Btw, updatean berikutnya mungkin setelah tanggal 16 ya... Ada urusan dunia nyata yang nggak bisa ditinggalkan nih. Hiksssss...

*tarik Toma*
From:
Anonymous( )Anonymous This account has disabled anonymous posting.
OpenID( )OpenID You can comment on this post while signed in with an account from many other sites, once you have confirmed your email address. Sign in using OpenID.
User
Account name:
Password:
If you don't have an account you can create one now.
Subject:
HTML doesn't work in the subject.

Message:

 
Notice: This account is set to log the IP addresses of everyone who comments.
Links will be displayed as unclickable URLs to help prevent spam.

Profile

kashikuta: (Default)
kashikuta

December 2011

S M T W T F S
    123
45 678 910
1112 1314151617
18192021222324
25262728293031

Style Credit

Expand Cut Tags

No cut tags
Page generated Sep. 26th, 2017 10:54 am
Powered by Dreamwidth Studios