kashikuta: (Matsujun)
[personal profile] kashikuta
LJ kenapa gangguan terus yach?? Mau posting fic jadi susah ihhhh... (>,<)

Photobucket


Judul : Infinity
Penulis : [livejournal.com profile] hideko_ikuta

Pairing : SakurAiba (main), TomaPi (side), Guest : Ohno, Jun & Nino
Rating : PG
Genre : AU, Romance, BL, Yaoi



Di kerajaan Akai...
 
Sebongkah es yang cukup besar tiba-tiba runtuh dan membuat seluruh penjuru Akai bergetar. Yamashita dan Toma memandang ke luar istana dari balik jendela kamar Yamashita, keduanya pun saling bertatapan dengan tatapan heran.
 
“kegelapan di kerajaan ini sebentar lagi akan menghilang...” ucap Toma, tersenyum pada Yamashita.
 
“kau mencoba menakutiku, Toma?” kata Yamashita sambil menarik kimono Toma di bagian leher.
 
“jangan lari dari kenyataan, Yamashita. Kau sudah berusaha keras untuk melindungi negeri ini dari serangan kerajaanku. Kau pasti adalah orang yang paling tahu, bahwa zaman es di negeri ini akan segera berakhir” jawab Toma.
 
“itu... itu tidak akan terjadi!” kata Yamashita berusaha kuat meskipun agak ragu.
 
“maafkan aku karena sudah menyembunyikan takdirmu Yamashita tapi sungguh aku tak pernah bermaksud jahat padamu. Percayalah... Mari kita akhiri ini sekarang...” kata Toma sambil memandangi Yamashita lekat-lekat, membuat orang di depannya itu entah mengapa menjadi berhasrat untuk melakukan sesuatu pada pria manis di hadapannya.
 
Yamashita mendekatkan dirinya ke Toma, mengusap pipi pria itu dengan lembut sembari memandangi matanya yang kecokelatan dan jernih. Pelan-pelan ia mendekatkan bibirnya pada bibir Toma dan sentuhan itu terasa pas sekali di bibirnya. Toma hanya terdiam tak melawan, matanya terpejam dan tangannya meremas baju Yamashita ketika ia tersembunyi di balik pelukan Yamashita yang hangat, sembari menikmati ritme ciuman manis yang diciptakan oleh Yamashita.
 
 
 
PLOK PLOK PLOK...
Terdengar suara tepuk tangan tak jauh dari Toma dan Yamashita, membuat mereka saling melepaskan pelukan dan segera menoleh ke sumber suara.
 
“sekarang aku tak heran mengapa negeri ini menghangat, kau mulai berubah pikiran, Yamashita?” kata Matsujun berjalan mendekat ke dekat Yamashita dan Toma.
 
Yamashita hanya terdiam.
 
“memangnya kau sudah lupa bahwa orang ini sudah menyembunyikan fakta bahwa kau tak akan bisa hidup abadi karena suatu hari kau akan terbunuh oleh ksatria Infinity?” tanya Matsujun.
 
“uhm... Itu...” kata Yamashita, mulai ragu. Sementara Toma menggeleng-gelengkan kepalanya di depan Yamashita, berusaha mengatakan bahwa ia tidak berbohong.
 
“kau juga sudah lupa bahwa orang ini ingin menguasai negeri ini sendirian?” tanya Matsujun, membuat Yamashita mundur sedikit.
 
“Matsujun! Berhenti meracuni Yamashita dengan kejahatanmu. Aku tidak pernah berpikir begitu!” kata Toma pada Jun.
 
“lalu dimana kau menyembunyikan sumber keabadian?” tanya Matsujun, berjalan mendekat ke Toma.
 
“aku tidak bisa memberitahumu” jawab Toma mulai ragu.
 
“kau lihat¸ Yamashita.. Orang ini tidak mau menjawab?” kata Matsujun.
 
“bukan seperti itu...” kata Toma yang langsung terpotong oleh kata-kata Matsujun.
 
“kenapa kau menyembunyikannya dari kami? Apa alasannya?” tanya Matsujun.
 
“itu... Aku tidak bisa mengatakannya padamu!” jawab Toma.
 
“karena kau tak punya alasan untuk itu khan? Kau memang ingin menguasai negeri ini sendiri?” tanya Matsujun sambil mendekatkan dahinya ke Toma.
 
“tidak, aku tidak pernah berpikir begitu, uhhhmmmm....!!!” kata Toma yang langsung terputus karena tiba-tiba bibirnya dicium oleh Matsujun. Toma tak bisa banyak melawan karena rantai yang terikat di tangan dan kakinya.
 
“hey~!!” kata Yamashita dengan pandangan sinis, dengan penuh emosi langsung mendorong Matsujun untuk melepaskan Toma. Matsujun terbahak ketika Toma berusaha mengendalikan nafasnya yang jadi terengah.
 
“kau marah karena aku menciumnya? Pantas saja pikiranmu jadi tidak rasional, kau ternyata masih mencintai Baginda Ikuta Toma, betul begitu?” tanya Matsujun sambil menghapus sisa air liur di ujung bibirnya.
 
Yamashita terdiam, pikirannya bingung. Ia ingat dulu alasannya jadi memusuhi Midori adalah karena ia sudah merasa dikhianati Toma dan ia juga dendam karena Toma tidak pernah mau memberitahukan letak sumber keabadian padanya. Ia juga rela bergabung dengan Matsujun dan membuat negerinya yang subur menjadi memiliki musim dingin yang berkepanjangan hanya demi menjadi kuat. Yamashita ingat, Matsujun pernah mengatakan padanya bahwa untuk menjadi kuat, Yamashita harus menutup hatinya terhadap cinta. Ia sudah melakukannya, ia pun sudah menjadi raja yang sangat kuat seperti yang dijanjikan oleh Matsujun ketika ia berada jauh dari Toma.
 
Tetapi... ketika melihat Toma kembali, Kenapa sekarang perasaannya sudah berubah? Mengapa ia jadi mulai merasa bahwa ia tidak perduli lagi dengan sumber keabadian? Yang ia inginkan sekarang adalah selamanya bersama Toma. Perasaan macam apa ini?
 
 
“kasian sekali kau, Yamashita... Bisa terpedaya hanya dengan ciuman seperti itu” kata Matsujun sambil terbahak.
 
“apa maksudmu?!” kata Yamashita.
 
“Dengar! Andai Toma juga mencintaimu, ia pasti tidak akan membiarkanmu terluka dan memberitahukan padamu dimana letak sumber keabadian. Iya khan? Bodoh!” kata Matsujun sambil menepuk kepala Yamashita.
 
 
“sepertinya... kau benar...” kata Yamashita sambil menunduk.
 
“Yamashita... Ku mohon, percaya padaku...” kata Toma setengah berteriak, ketika tubuhnya tiba-tiba di seret oleh Yamashita untuk kembali ke kamar khusus tempat ia biasa di sekap.
 
 
 
Tak lama kemudian, dari kamarnya Toma dapat melihat Yamashita dan Matsujun menghilang dari ruangan, entah pergi kemana.
 
kenapa kau rela membayar begitu mahal hanya untuk bisa mendapatkan kekuatan seperti itu, Matsujun?” tanya Toma dalam hati.
 
 
 
Di tempat lain di negeri Akai...
 
Sho dan Aiba mulai bekerja keras untuk melawan prajurit-prajurit yang dikirim oleh Yamashita dan Matsujun untuk menghadang mereka. Untungnya, pedang Infinity ternyata sangat hebat sehingga dengan sekali tebas, para prajurit itu hangus tak berbekas. Bahkan baju perang yang mereka pakai pun ternyata tak dapat dipegang oleh sembarang orang karena efeknya seperti air raksa, membuat tangan siapapun yang memegangnya menjadi melepuh.
 
“kita pasti bisa segera menyelesaikan ini dan kau bisa segera pulang ke duniamu, Masaki...!” kata Sho sambil memandangi Aiba yang terlihat lelah, berusaha mengembalikan semangatnya lagi.
 
Aiba menjawab dengan anggukan dan senyuman manis di wajahnya.
 
Dengan bantuan semangat dari Sho itu, Aiba akhirnya terus berjalan menerobos hutan Akai bersama-sama dengan Sho. Ia sungguh ingin segera menyelesaikan masalah ini bersama Sho, walaupun entah mengapa hatinya sekarang menjadi mulai terasa semakin tidak nyaman.
 
Entah karena ia takut dengan apa yang akan mereka hadapi di sana, atau ia takut ini segera berakhir sehingga ia harus meninggalkan Sho dan kembali ke negerinya lagi.
 
Benar-benar takut akan kehilangan seorang Sakurai Sho, apakah ini sudah saatnya Aiba Masaki memikirkan hal itu? Apakah mungkin ia akan lebih bahagia jika selamanya dapat berada di negeri ini bersama dengan pria di sebelahnya itu?

From:
Anonymous( )Anonymous This account has disabled anonymous posting.
OpenID( )OpenID You can comment on this post while signed in with an account from many other sites, once you have confirmed your email address. Sign in using OpenID.
User
Account name:
Password:
If you don't have an account you can create one now.
Subject:
HTML doesn't work in the subject.

Message:

 
Notice: This account is set to log the IP addresses of everyone who comments.
Links will be displayed as unclickable URLs to help prevent spam.

Profile

kashikuta: (Default)
kashikuta

December 2011

S M T W T F S
    123
45 678 910
1112 1314151617
18192021222324
25262728293031

Style Credit

Expand Cut Tags

No cut tags
Page generated Jul. 27th, 2017 06:44 am
Powered by Dreamwidth Studios