kashikuta: (OhMiya)
[personal profile] kashikuta
Photobucket


Judul : Infinity
Penulis : [livejournal.com profile] hideko_ikuta

Pairing : SakurAiba (main), TomaPi (side), Guest : Ohno, Jun & Nino
Rating : PG
Genre : AU, Romance, BL, Yaoi




BRUUUUKKK....!! Tubuh Toma terhempas ke lantai ketika Yamashita akhirnya membawa Toma ke sebuah kamar khusus di samping kamar tidurnya.
 
“ini hukumanmu karena kau tetap tidak mau bekerjasama denganku, Ikuta Toma!” kata Yamashita, setengah berteriak.
 
“sudah ku bilang, aku tidak akan memberitahumu soal itu” kata Toma.
 
“baiklah, kalau begitu, kau akan terus berada di dalam ruangan ini hingga kau dapat bekerjasama denganku soal sumber keabadian” kata Yamashita sementara Toma hanya diam.
 
“dan oh... Karena sekarang Midori sudah tak terlindungi, pasukanku akan segera menghancurkan negerimu untuk menemukan benda itu” kata Yamashita sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan dengan pintu melengkung tanpa tutup itu.
 
“ku mohon, jangan lakukan itu!!” kata Toma berusaha mengejar Yamashita tetapi ternyata di pintu itu Yamashita memasang semacam garis pembatas dengan kekuatannya sehingga tubuh Toma langsung terpelanting ke belakang begitu mendekat.
 
aku merindukanmu, Yamashita... Merindukan dirimu yang dulu” kata Toma dalam hati sambil memperhatikan Yamashita yang berjalan menjauh.
 
 
 
 
Di kerajaan Midori...
 
Hari sudah menjelang pagi tetapi seluruh penduduk di Midori Land belum tidur dan tampak dalam keadaan waspada. Sho dan seluruh prajuri Midori Land kini sudah berada di luar kerajaan Midori. Mereka terlihat sibuk mengeluarkan ribuan hewan semacam kunang-kunang dari sangkar emas dan mengarahkannya agar terbang mengelilingi istana.
 
“ini untuk melindungi istana dari serangan tentara Akai. Mereka sudah akan memasuki perbatasan karena kami tidak ada pelindung lagi, jadi, ini supaya mereka tidak kemudian menghancurkan istana kami” kata Ohno mencoba menjelaskan pada Aiba yang terlihat bingung.
 
“kenapa mereka mau menghancurkan istana?” tanya Aiba.
 
“mereka mau mencari sumber keabadian untuk diberikan pada Baginda Yamashita” jawab Ohno.
 
“sumber keabadian? Apa itu?” tanya Aiba.
 
“aku juga tidak tahu, hanya Baginda Ikuta yang mengetahuinya dan tahu letaknya. Tapi demi keamanan, kita harus menjaga istana agar tetap utuh, seperti pesan dari Baginda” jawab Ohno.
 
 
 
“bagaimana Satoshi, apa tugasmu sudah selesai?” tanya Sho ketika melihat Ohno mengobrol dengan Aiba yang hanya duduk di rerumputan sambil memperhatikan semua prajurit Midori sibuk mengeluarkan kunang-kunang.
 
“sudah selesai Jendral, kami menunggu komando berikutnya” jawab Ohno yang langsung berdiri tegap di depan Sho.
 
“baik, jika begitu, berarti sekarang saatnya kita berpencar. Bagi pasukan menjadi dua, satu bagian bertahan di sini untuk melindungi Midori Land dan bagian lain, kau pimpin langsung untuk menyerang ke Akai dan kita akan bersama-sama menyerang istana Akai nanti” perintah Sho.
 
“siap, laksanakan Jendral!” kata Ohno.
 
“baik, semoga sukses. Sampai bertemu di kerajaan Akai! Demi kedamaian Midori Land...” kata Sho yakin.
 
“siap, Demi kedamaian Midori Land... Semoga sukses, Jendral!” jawab Ohno sembari menghormat, membungkuk sejenak lalu mulai mengatur pasukan.
 
 
 
Sho kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Aiba,
“ayo, berangkat!” kata Sho.
 
“kita mau kemana?” tanya Aiba sembari menyambut tangan Sho. Ia bingung, tetapi ia tetap tidak lupa dengan perkataan Toma mengenai Sho yang selalu berusaha melindunginya, jadi ia memutuskan untuk menurut saja, mencoba percaya pada apa yang diputuskan oleh pasangan hidupnya itu.
 
“sudah, ikut saja” kata Sho yang kemudian menarik Aiba masuk menuju sebuah hutan belantara yang gelap dan lebat sekali.
 
 
 
Di kerajaan Akai...
 
Toma kini duduk di lantai kamar sambil menyandarkan tubuhnya ke sisi tempat tidur. Tidak tertarik untuk beristirahat karena di kepalanya bercampur pikiran banyak hal tentang negerinya. Kini ia sedang mencoba membunuh waktu dengan melipat kertas yang berceceran di meja kamar tempat ia di sekap ketika seseorang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
 
“permisi... Saya datang membawakan makanan...” kata orang itu ragu-ragu lalu meletakkan makanan di meja.
 
“astaga, kau ini... Jendral Ninomiya Kazunari, iya khan?” kata Toma dengan nada terkejut, begitu melihat pria di depannya.
 
“huh? Anda ini...? Ahh... Baginda Ikuta, mengapa anda bisa berada di sini???” tanya orang itu terkejut dan langsung duduk sopan di hadapan Toma sembari memegangi tangannya.
 
“Ahhh~ Ceritanya panjang...” kata Toma sambil menggaruk-garuk kepala.
 
“bagaimana kabarmu, Jendral? Apa mereka memperlakukanmu dengan baik di sini?” tanya Toma sambil memperhatikan Nino.
 
“saya baik-baik saja, Baginda... Sungguh senang saya dapat bertemu dengan anda lagi...” kata Nino sambil berlindang air mata menciumi tangan Toma tanda penghormatan.
 
Toma tahu Nino tidak diperlakukan dengan baik di sana, wajahnya pucat, tubuhnya juga jauh lebih kurus. Terlihat ada beberapa luka memar di wajahnya, sepertinya masih baru, entah siapa yang tega memperlakukan mantan Jendral kerajaan Midori hingga seperti itu.
 
 
 
“maaf karena aku tak bisa menjemputmu pulang ketika mereka menculikmu, Jendral... Aku tidak mungkin meninggalkan Midori...” kata Toma dengan wajah iba memandang Nino yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
 
“tidak apa-apa, Baginda. Semua masalah yang terjadi di negeri ini karena kesalahan saya, sudah sepantasnya saya mendapatkan hukuman ini. Saya sungguh minta maaf, Baginda... Mohon ampuni saya...” kata Nino dengan wajah sedih.
 
“kau tidak perlu minta maaf, sepertinya memang kita harus menjalani takdir yang seperti ini... kau tidak bersalah...” kata Toma sembari membelai kepala Nino penuh kelembutan.
 
 
“well... well... Reuni antara Baginda raja dan Jendral, huh? Menarik sekali...” kata seseorang di dekat pintu sambil bertepuk tangan.
 
“kau! Apa yang kau lakukan pada Nino, hingga dia sekarang seperti ini?!” kata Toma yang langsung bangun dan berjalan cepat mendekat ke orang yang di dekat pintu lalu menarik baju militer yang ia pakai.
 
“Nino! Cepat kembali kerjakan tugas rutinmu, pergi dari ruangan ini!” perintah orang itu.
 
“baik, Baginda. Maaf, saya harus pergi Baginda Ikuta, senang bisa bertemu dengan anda lagi, saya undur diri dulu” kata Nino yang kemudian berjalan keluar menuju pintu lalu menghilang dari pandangan.
 
 
“Yamashita, kenapa kau menjadi seperti ini sekarang. Dulu kau tidak begini!” teriak Toma di hadapan Yamashita.
 
“kau yang membuatku seperti ini! Ingat, ini semua salahmu karena sudah membohongiku!” kata Yamashita dengan membalas berteriak sambil menarik baju Toma, tak mau kalah.
 
“aku tidak membohongimu... Aku hanya tidak mau kau mengetahui takdirmu dan semuanya berubah menjadi seperti sekarang” kata Toma membantah.
 
“bohong!” kata Yamashita yang kemudian melempar tubuh Toma hingga kembali terjatuh di lantai.
 
 
Yamashita berusaha berjalan mendekat untuk menyerang Toma lebih lanjut tetapi kemudian langkahnya terhenti karena serangan kertas-kertas berbentuk bangau yang tadi dilipat oleh Toma. Meskipun tidak begitu kuat seperti di Midori, di kerajaan ini Toma masih dapat menggunakan kekuatannya berupa menggerakkan benda-benda dengan telunjuknya sehingga ia dapat menggerakkan bangau-bangau hasil lipatannya itu untuk menyerang Yamashita.
 
“apa-apaan ini?!!!” teriak Yamashita geram sambil menangkis bangau-bangau yang berterbangan di sekitarnya.
 
“ouch...” kata Yamashita kemudian ketika sebuah bangau berhasil melukai wajahnya, sehingga seperti habis di silet, wajahnya mengeluarkan darah.
 
“Tomaaaaaa!!!” teriak Yamashita semakin mendekat ke Toma, duduk di pinggang orang itu, lalu memukuli tubuhnya tanpa ampun hingga Toma terkapar di lantai. Baju Toma menjadi berantakan, rambut Toma yang panjang dan biasa terikat rapi, kini juga menjadi tergerai acak-acakan.
 
 
Setelah melihat Toma tak berdaya dengan wajah babak belur, Yamashita kemudian memegang pipi Toma dengan tangan kanannya, mencengkramnya untuk mengarahkan wajah Toma menghadap ke arahnya.
 
“self healing, huh? Baginda Ikuta Toma yang hidup abadi...” kata Yamashita dengan nada sinis melihat luka-luka di wajah Toma yang perlahan sembuh sendiri dan menghilang tanpa bekas sedikitpun.
 
“tapi... Ku rasa kau tetap bisa merasakan sakitnya, khan?” tanya Yamashita sambil tersenyum, lalu kembali memberikan tamparan yang cukup keras pada wajah Toma sementara orang yang ia tampar hanya diam saja, tidak memberikan reaksi apapun.
 
“dan ku yakin, kau pasti juga bisa merasakan ini...” kata Yamashita yang kemudian menjambak rambut Toma yang tergerai panjang, lalu langsung mendaratkan bibirnya pada Toma, membuat orang yang ada di hadapannya terbelalak karena terkejut.



From:
Anonymous( )Anonymous This account has disabled anonymous posting.
OpenID( )OpenID You can comment on this post while signed in with an account from many other sites, once you have confirmed your email address. Sign in using OpenID.
User
Account name:
Password:
If you don't have an account you can create one now.
Subject:
HTML doesn't work in the subject.

Message:

 
Notice: This account is set to log the IP addresses of everyone who comments.
Links will be displayed as unclickable URLs to help prevent spam.

Profile

kashikuta: (Default)
kashikuta

December 2011

S M T W T F S
    123
45 678 910
1112 1314151617
18192021222324
25262728293031

Style Credit

Expand Cut Tags

No cut tags
Page generated Jul. 27th, 2017 06:45 am
Powered by Dreamwidth Studios