kashikuta: (Calm Pi)
[personal profile] kashikuta
Photobucket

Judul : Infinity
Penulis : hideko_ikuta
Pairing : SakurAiba (main), TomaPi (side), Guest : Ohno, Jun & Nino
Rating : G
Genre : AU, Romance, BL, Yaoi





CRACK...!! BOOM...!!
 
Aiba merasakan tubuhnya menghantam dedaunan dan rerumputan sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
 
“ittaiiiii....” kata Aiba memegangi punggungnya sambil meringis sakit.
 
“baginda? Anda tidak apa-apa, baginda?” tanya seorang pria tiba-tiba sambil membantu Yamashita berdiri.
 
“tidak apa-apa... Aiba-kun, kau tidak apa-apa?” tanya Yamashita.
 
“tidak apa-apa... Ini... Tempat apa? Kutub utara?” kata Aiba, bingung ketika melihat hamparan rumput yang luas dan hanya diisi bunga-bunga mawar merah yang membeku seperti es dan pohon-pohon besar berbunga merah yang semuanya juga membeku.
 
“oh, ini taman istanaku... Ayo masuk, kita akan membeku kalau terus di sini” kata Yamashita sambil berjalan menuju sebuah kastil besar di hadapan mereka.
 
“Wuih, kau itu, ternyata benar-benar seorang raja ya?” kata Aiba sembari menepuk pundak Yamashita ketika berhasil mengimbangi langkahnya.
 
 
“hey, mundur! Dilarang berbuat tidak sopan pada baginda raja!” kata seorang pengawal berbaju militer sambil menyodorkan senjatanya ke hadapan Aiba dan membuat Aiba kini dikepung oleh beberapa orang berbaju sama dengan orang yang mengacungkan senjata padanya.
 
“eeehhhh???!!!” kata Aiba terkejut.
 
“turunkan senjata kalian, orang ini akan membantu kita melawan kerajaan Midori!” kata Yamashita sambil memandang tajam, membuat pengawal-pengawal langsung menurunkan senjata mereka dari hadapan Aiba.
 
“Maafkan kami...” kata pengawal-pengawal itu sambil kemudian menyembah-nyembah Aiba dengan memegangi kakinya.
 
 
“hah??!! Sudah-sudah, tidak apa-apa...” kata Aiba agak bingung mencoba membuat pengawal-pengawal itu berhenti minta ampun padanya tetapi mereka tetap menyembah Aiba untuk minta maaf.
 
“ayo, jalan...!” kata Yamashita kemudian berjalan pergi. Aiba mengikuti Yamashita di belakang sambil sesekali melirik ke arah pengawal yang masih pada posisi semula.
 
“tunggu-tunggu, ini sebenarnya tempat apa sih? Akai Land itu apa? Kita sebenarnya sedang berada di belahan bumi bagian mana?” kata Aiba kebingungan.
 
“nanti ku jelaskan... Ayo, masuk” kata Yamashita sambil terus berjalan.
 
Mau tak mau, Aiba mengikutinya dibelakang, sembari sesekali memandangi kastil abu-abu yang akan ia masuki. Terlihat begitu dingin dan kaku, tumbuhan di sekitar yang menempel pada kastil itu membeku. Sebenarnya tempat itu cukup bagus dan mungkin saja memang di sana sedang musim dingin sehingga semua benda di sana membeku, tapi entah mengapa, jauh di dalam hati kecilnya, Aiba merasakan ada yang salah dengan tempat itu.
 
Terutama setelah ia mendongak ke atas, tak ada matahari, langitnya gelap dan hampir separuh pandangannya ke langit tertutup oleh pohon yang rindang dengan dedaunan membeku.
 
Tempat apa ini sebenarnya? Ah, tapi lumayanlah.. Anggap saja liburan. Setidaknya, ini jauh lebih baik daripada harus bertemu dengan Satoshi-san. Hihihi...” pikir Aiba sambil tersenyum-senyum sendiri.
 
 
 
 
Beberapa menit kemudian...
 
Aiba dan Yamashita sudah berada di dalam sebuah ruangan di dalam kastil Yamashita. Sebuah kastil tua dengan penerangan menggunakan obor. Terdapat banyak jendela berwarna hitam dan cukup besar. Ruangan yang tampaknya cukup hangat tetapi Aiba tetap dapat merasakan tubuhnya merinding, entah karena apa.
 
Kini Aiba sudah duduk tepat di depan Yamashita dengan mata masih terpesona memandang ke sana kemari. Kagum dengan ruangan yang begitu besar yang anehnya isinya hanya satu meja dan dua buah kursi serta perapian. Seorang pria kurus datang ke meja mereka lalu meletakkan dua buah piring kecil berbahan tembaga, berisi beberapa bulatan-bulatan bening di atasnya.
 
“silahkan dicicipi...” kata Yamashita dengan tangan menunjuk ke piring kecil yang diletakkan di meja di depan Aiba.
 
“apa ini?” tanya Aiba sambil mengangkat piring tembaga di hadapannya.
 
“sashimi ubur-ubur, tadi katanya kau lapar khan?” tanya Yamashita yang dengan santai memasukkan makanan itu ke mulutnya, lalu mengunyahnya. Aiba meringis ngeri ketika melihat mulut Yamashita jadi menyala-nyala karena makan ubur-ubur hidup. Tersengat aliran listrik?
 
 
“uhmm... Tidak, terima kasih” kata Aiba yang tiba-tiba kehilangan selera makan.
 
“jadi, bagaimana tadi? Sebenarnya ini tempat apa? Kenapa kau mengajakku ke sini?” tanya Aiba sambil memandangi Yamashita yang kini sudah memakai baju militer berwarna merah, ada berbagai bintang penghargaan tersemat di dada dan pundaknya, selain itu ia juga mengenakan mahkota di kepalanya.
 
“ini Akai Land, kerajaanku... yang makmur, damai serta kaya raya. Baru-baru ini, kerajaanku diserang oleh kerajaan bernama Midori, kami kehilangan banyak pasukan yang berharga, karena itu, kerajaanku membutuhkan bantuanmu” kata Yamashita.
 
“kenapa harus aku?” tanya Aiba.
 
“aku percaya kau memiliki sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain, Aiba. Karena itu, saat aku memutuskan untuk mencari bantuan, aku terjatuh di rumahmu” kata Yamashita.
 
“sesuatu apa?” tanya Aiba bingung.
 
“infinity” jawab Yamashita.
 
“infinity? Uhmm.... Ahhh~ Maksudmu, kalung ini ya?” tanya Aiba sambil mengeluarkan kalung bulat telur yang melingkar di lehernya.
 
 
Yamashita mengangguk dengan pandangan mata ke arah kalung yang ditunjukkan Aiba. Ia lalu mendekat dan memegangnya tapi dalam sekejap langsung melepaskannya lagi. Yamashita kemudian berjalan menjauh dari Aiba lalu duduk kembali ke tempat duduknya.
 
 
“bau apa ini ya? Sepertinya ada yang terbakar. Hmmm...” kata Aiba berusaha mengendus-endus. Tadi Aiba dapat mendengar ada bunyi sesuatu yang terpanggang lalu sekejap ia mencium ada sesuatu yang terbakar di dekatnya.
 
“aku tidak mencium bau apapun. Uhm.. Jadi, Aiba-kun, ada yang perlu kau tanyakan lagi sebelum kau melaksanakan tugasmu?” tanya Yamashita.
 
“kenapa aku harus membantumu?” tanya Aiba.
 
“karena kau harus menjalani takdirmu...” kata Yamashita pelan sehingga sulit didengar Aiba.
 
“apa?!” tanya Aiba.
 
 
“uhm... Karena kau tidak bisa pulang kembali ke duniamu sebelum kau membantuku menyelesaikan masalah kerajaanku dengan kerajaan Midori” kata Yamashita.
 
“HAH?!” Aiba terkejut hingga berdiri sambil memegang meja dengan arah pandangan ke Yamashita.
 
“aku serius... Portal itu tidak akan terbuka lagi jika masalah ini belum selesai, Aiba-kun...” kata Yamashita sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi.
 
“jadi, kau menjebakku??!!” kata Aiba setengah berteriak.
 
“tadi sebelum ke sini aku sudah menanyakan keyakinanmu untuk kemari, khan? Aku sudah tahu, kau sungguh tak akan bisa kembali jika masalah kerajaanku belum selesai” kata Yamashita tenang.
 
“jadi kau mengancamku, huh?!” kata Aiba dengan wajah kesal. Tubuhnya tiba-tiba terasa gemetar. Aiba memang senang bisa jalan-jalan ke tempat ini, tapi itu bukan berarti tidak mau kembali lagi ke Tokyo.
 
“bukan mengancam tapi aku sungguh tak bisa membantumu. Kau harus mencari jalan pulangmu sendiri” kata Yamashita.
 
“ba... bagaimana caranya?” tanya Aiba kembali duduk, tubuhnya terasa sedikit lemas. Selain lapar, ia juga menjadi sedikit shock dengan berita dari Yamashita.
 
“bantu aku menyelesaikan persoalan kerajaanku, aku akan membantumu mencari cara untuk menemukan jalan pulang. Bagaimana? Setuju?” tanya Yamashita sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Aiba.
 
“se... tuju...?” jawab Aiba ragu sambil menjabat tangan Yamashita, mau tidak mau ia memang harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Yamashita. Pria di depan Aiba itu pun kemudian tersenyum lebar melihat persetujuan dari Aiba.
 
 
 
Sementara itu di kerajaan Midori...
 
“kau dapat merasakannya?” kata seseorang pria berbaju hijau panjang, pada seorang pria di depannya.
 
“ada... kekuatan baru yang masuk ke dalam Akai Land?” jawab pria bertopeng dan berbaju besi yang ada di depannya.
 
“betul! Takdirmu... Sudah akan ditentukan, Jenderal...” kata pria itu memandang ngeri si pria bertopeng sambil menunjukkan lembar pada sebuah buku keramat yang warnanya sudah menguning.
 
“takdir untuk kita semua, menemukan infinity...” jawab pria yang dipanggil sebagai Jenderal itu, lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan.
 
 
 
Beberapa menit kemudian di luar ruangan....
 
“Persiapkan semua pasukan untuk menghadapi Akai Land!” seru sang Jenderal beberapa menit kemudian di depan seseorang berbaju besi yang tampaknya .
 
“siap, laksanakan Jendral!” kata pria yang ada di hadapan sang Jenderal lalu pergi menjauh.

From:
Anonymous( )Anonymous This account has disabled anonymous posting.
OpenID( )OpenID You can comment on this post while signed in with an account from many other sites, once you have confirmed your email address. Sign in using OpenID.
User
Account name:
Password:
If you don't have an account you can create one now.
Subject:
HTML doesn't work in the subject.

Message:

 
Notice: This account is set to log the IP addresses of everyone who comments.
Links will be displayed as unclickable URLs to help prevent spam.

Profile

kashikuta: (Default)
kashikuta

December 2011

S M T W T F S
    123
45 678 910
1112 1314151617
18192021222324
25262728293031

Style Credit

Expand Cut Tags

No cut tags
Page generated Jul. 27th, 2017 06:46 am
Powered by Dreamwidth Studios