kashikuta: (Bad Aiba)
[personal profile] kashikuta
Sehari publish dua fanfic! Wohoooo~! ^^

Oh iya, ini satu chapter sebelum tamat ya... Habis itu, Hideko bakal liburan. Fufufu...

Selamat membaca. :D


Photobucket

Judul : Sleeping Prince
Penulis : Hideko Ikuta
Pairing : Sakuraiba (side pairing: JunBa & MatsuMiya)
Rating : PG
Genre : Romantic Comedy, BL, Yaoi
Sinopsis : Cerita sleeping beauty sudah membuat Aiba dan Sho menjalani hubungan persahabatan yang tidak wajar. Haruskah persahabatan ini diakhiri ketika sang 'putri' jatuh cinta pada pangeran lain?
Disclaimer : I don't own them. :(


“Sakurai-kun!” kata Nino begitu melihat anak didiknya berdiri di samping tempat Matsujun duduk.

“apa benar, ceritanya seperti itu, Sensei?” tanya Sho sambil memandang ke Matsujun.

“bukan urusanmu, untuk apa kau ke sini?!” seru Matsujun geram.

“saya mohon, izinkan saya menjenguk Aiba...” kata Sho dengan wajah sedih dan bingung.

“untuk apa?” tanya Matsujun sinis.

“saya sungguh mencintainya dan saya ingin ia tahu mengenai hal itu sekarang!” kata Sho.

“percuma saja..., dia belum sadar sejak operasi” kata Matsujun.

“dia pasti akan bisa mendengar suara saya, pasti! Karena... kami saling mencintai...” kata Sho lirih.


Dari wajahnya terlihat jelas bahwa Sho begitu cemas dengan keadaan Aiba, sehingga tak heran, Sho yang biasanya cenderung menutup rapat perasaannya, menjadi lebih jujur kali ini.
“dia belum sadar sejak operasi tadi pagi. Kami terpaksa mengoperasinya untuk menutup lubang di paru-parunya. Ia terlalu lelah bekerja sehingga penyakitnya semakin parah, akibatnya kami tidak bisa mengobatinya dengan cara biasa” kata Matsujun.
Sho hanya memandang Matsujun dengan wajah sedih, perasaannya sungguh menjadi semakin tidak tenang setelah mendengar penjelasan Matsujun.

“kau bisa menjenguknya, ia ada di dalam” kata Matsujun sambil menunjuk pintu masuk ICU.

“arigatou, Sensei~” kata Sho yang kemudian membungkuk, lalu segera berjalan masuk ke ruang ICU.


Beberapa saat kemudian, Sho sudah memakai pakaian khusus untuk masuk ICU, beserta masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Ia berjalan pelan menuju Aiba yang tergolek lemas di salah satu tempat tidur rumah sakit dengan berbagai peralatan yang menempel di tubuhnya, serta banyak infus bergelantungan di sisi kiri dan kanan tempat ia tidur. Aiba diam tak bergerak, hanya alat pengukur detak jantung yang dapat menunjukkan bahwa Aiba masih dalam keadaan bernyawa.

Sho kemudian menarik kursi terdekat dari tempat Aiba terbaring, lalu duduk di samping Aiba. Dengan agak ragu, Sho menyentuh tangan kanan Aiba lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya. Tangan itu lemas dan tak memberikan reaksi apapun terhadap sentuhannya. Sho memandang wajah Aiba yang terlihat begitu damai, memejamkan matanya tanpa terganggu dengan selang oksigen yang dipasang di hidungnya.

“Aiba-kun... Aku datang, apa kau bisa mendengar suaraku?” tanya Sho sembari memegang pipi Aiba dengan tangan kanannya dan menyentuhkan tangan kanan Aiba pada pipinya sendiri.

“maaf aku terlambat, aku tidak tahu kau ada di sini. Kau tidak marah padaku khan? Bicaralah... Jangan mendiamkan aku seperti ini, Aiba-kun...” tanya Sho dengan mata mulai tergenang air mata.

“apa ada yang sakit, Aiba-kun? Mengeluhlah padaku... Aku akan dengan senang hati mendengarnya...” kata Sho masih meletakkan tangan Aiba di pipinya.

“kau pasti akan kembali menemaniku, iya khan? Kau tak akan meninggalkanku, selamanya bersamak seperti biasanya. Iya khan, Aiba-kun?” tanya Sho bertubi-tubi tetapi Aiba tetap diam.


Sho kemudian mendekatkan jarinya ke bibir Aiba yang terlihat memucat, ia mendekatkan wajahnya ke Aiba lalu mendaratkan bibirnya pada Aiba dan sekejap kemudian langsung menitikkan air mata. Bibir itu biasanya terasa begitu hangat dan Sho bahkan berharap Aiba dapat langsung memukul kepalanya ketika ia melakukan hal itu tetapi sayangnya kali ini tidak. Aiba hanya diam dan bibir itu terasa lebih dingin dari biasanya, tak bereaksi sama sekali dengan kecupannya.
“cepatlah bangun dari tidurmu, Sleeping beauty-kun... Pangeran, mencemaskanmu...” kata Sho yang kemudian mengecup tangan Aiba, meletakkannya di tempat semula lalu pergi meninggalkan tempat tidur Aiba.

Sho berjalan keluar dengan langkah gontai. Ketika ia membuka ruangan itu, ia dapat melihat Jun sedang tertidur di pangkuan Nino yang kini sedang memandang ke arah Sho.
“sudah menemuinya? Bagaimana keadaannya?” tanya Nino.

“tidak bereaksi sama sekali...” kata Sho sambil berdiri di hadapan Nino lalu melihat ke arah pangkuannya.

“sejak kemarin ia tidak bisa tidur karena mencemaskan keadaan Masaki, jadi mungkin sekarang ia baru bisa tidur setelah melihatmu akhirnya datang ke sini” kata Nino.


Sho hanya tersenyum tipis tak menjawab.
“pulanglah, istirahatlah dulu, kau terlihat lelah. Luka-lukamu itu juga sepertinya perlu diobati dengan lebih layak” kata Nino sambil menunjuk wajah Sho yang tadi diobati seadanya oleh Satoshi Sensei.

“tapi...” kata Sho agak ragu.

“pulanglah... Kami akan mengabarimu, jika ada perkembangan baru” kata Nino sembari tersenyum hangat memandang Sho.

“hmm... baiklah... kalau begitu, saya permisi” kata Sho yang akhirnya membungkukkan badan pada Nino lalu berjalan pergi.


Di rumah....
Sho termenung di meja belajarnya sambil memandangi putri tidur di dalam kotak musik yang memainkan lagu one love.

“aku bersalah padamu Aiba-kun.... Aku dan egoku, sudah membuatmu seperti sekarang...” kata Sho sembari menampari wajahnya sendiri. Kesal dengan kebodohan dan ketidakpekaannya terhadap perasaan orang yang ia cintai.

Ia sekarang mengerti mengapa Aiba bisa begitu saja setuju dengan ide-ide anehnya soal mendekati Matsujun. Sho teringat bahwa waktu itu Aiba tidak menolak sama sekali ketika ia mengajarinya berciuman.

Aiba bahkan tidak protes ketika Sho mengajarinya hal-hal intim yang lebih lanjut. Waktu itu, Sho tidak mengerti mengapa Aiba menangis hebat sesaat setelah Sho mengajaknya berhubungan intim. Sekarang ia mengerti, Aiba waktu itu sedih karena mendengar kata-katanya membandingkan Aiba dengan wanita-wanita yang pernah ia ajak berhubungan.

“maafkan aku, Aiba-kun....” kata Sho yang kemudian menangis dengan menundukkan kepalanya di meja dengan kedua tangannya terlipat di sana.


Sho menangis hingga tertidur, lalu memimpikan suatu kejadian yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu...

Sakurai Sho saat itu mungkin baru berusia lima tahun ketika sore itu melihat seorang anak kecil yang terlihat begitu imut dengan kaosnya yang berwarna merah muda dan celana jins birunya terlihat menangis di sebuah sudut taman bermain. Sho mendekati anak itu, lalu duduk di sebelahnya...
“daijoubu?” tanya Sho pada anak kecil di sebelahnya.


Anak kecil itu berhenti menangis sebentar untuk melihat Sho lalu terlihat kembali menitikkan air mata ketika melihat Sho.
“kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?” tanya Sho agak bingung melihat bocah manis berpipi merah merona yang ada di hadapannya. Anak itu hanya menjawab dengan menggeleng.

“Aku Sakurai Sho, kau siapa?” kata Sho sambil mengulurkan tangannya.

“Masaki... Aiba...” kata anak kecil itu meraih tangan Sho dengan agak takut dan gemetar.

“kenapa menangis?” tanya Sho memiringkan kepalanya sedikit.

“aku lupa... jangan pulang...” kata Aiba kembali menangis.

“eeeeh? Di mana rumahmu?” tanya Sho sambil memandang Aiba.


Aiba mengeluarkan kertas dari kantungnya lalu memberikannya pada Sho.
“kata Otousan, ini alamat rumahku” kata Aiba memandang polos Sho dengan matanya yang merah, masih belum bisa menghentikan air matanya.

“ahhh~ Aku tahu alamat ini, tak perlu khawatir!” kata Sho yang kemudian menghapus air mata di pipi Aiba.
Sho masih belum bisa membaca semua tulisan itu dengan lancar, tetapi karena ia tidak tega melihat Aiba yang terus menangis, ia mencoba sebisanya membaca tulisan yang ada.

“hontou ni~?” tanya Aiba masih agak ragu.

“un! Iku, aku akan mengantarmu pulang...!” kata Sho sok yakin berusaha tersenyum lebar untuk meyakinkan Aiba. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada Aiba dan disambut oleh Aiba meskipun agak ragu.


Setelah beberapa menit mereka berjalan mengitari komplek perumahan mereka...
“kau... bisa membaca?” tanya Aiba yang sedari tadi melihat Sho membaca setiap papan nama di depan rumah orang-orang.

“tentu saja, aku khan sudah akan masuk sekolah dasar!” kata Sho, tersenyum bangga.

“aku juga... tahun ini akan masuk sekolah dasar, tapi... aku belum bisa membaca...” kata Aiba sembari berjalan mengikuti langkah Sho, masih sambil bergandengan tangan.

“Fufufu... Tidak apa-apa, nanti juga bisa. Oh ya, kau mau sekolah dimana?” tanya Sho.

“Sakura... Gakuen. Kau?” kata Aiba agak ragu.

“aku belum tahu... Eh, Aiba-kun, ini rumahmu bukan?” kata Sho sambil menunjuk rumah berpagar putih di hadapan mereka ketika melihat tulisan Masaki sebuah kayu kecil yang terpasang di dekat pagar rumah.

“ahhhh~ Iya!!! Ini rumahku,Yatta~!!” kata Aiba riang.

“haaahh~ Syukurlah...” kata Sho, gembira memandang Aiba yang akhirnya dapat tersenyum lagi. Manis sekali.

“arigatou, Sho-chan...” kata Aiba yang langsung memeluk Sho erat-erat.

“eh, Sho-chan?” kata Sho sedikit terkejut karena Aiba langsung memanggilnya dengan panggilan seakan-akan mereka begitu dekat.

“kenapa...? Kau tak suka ya? Ku panggil begitu...” tanya Aiba, kembali murung memandang Sho.

“ahhh~ Tidak apa-apa... Kau bisa memanggilku sesukamu” kata Sho sembari memegang kedua pipi Aiba dan memandangi kedua matanya yang bulat.

“Yatta~!!” kata Aiba, kembali memeluk Sho, membuat Sho tersenyum.



Hari itu, Sakurai Sho belum mengerti apa itu cinta dan siapa yang seharusnya ia cintai tetapi sejak saat itu, ia menjadi selalu ingin bersama dengan Aiba Masaki. Bahkan, hari itu sepulang dari mengantar Aiba, ia meminta orang tuanya untuk mendaftarkannya ke Sakura Gakuen walaupun sebenarnya Sho punya kesempatan untuk mendaftar ke sekolah yang lebih baik jika dilihat dari kepandaiannya. Tapi Sho sejak kecil tidak pernah memikirkan hal itu, ia hanya ingin selamanya bersama Aiba Masaki, itu saja.
From:
Anonymous( )Anonymous This account has disabled anonymous posting.
OpenID( )OpenID You can comment on this post while signed in with an account from many other sites, once you have confirmed your email address. Sign in using OpenID.
User
Account name:
Password:
If you don't have an account you can create one now.
Subject:
HTML doesn't work in the subject.

Message:

 
Notice: This account is set to log the IP addresses of everyone who comments.
Links will be displayed as unclickable URLs to help prevent spam.

Profile

kashikuta: (Default)
kashikuta

December 2011

S M T W T F S
    123
45 678 910
1112 1314151617
18192021222324
25262728293031

Style Credit

Expand Cut Tags

No cut tags
Page generated Jul. 24th, 2017 12:31 pm
Powered by Dreamwidth Studios